Dalam kitabnya Taman Orang-orang Yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim al Jauziyah sangat banyak memberikan definisi tentang cinta. Salah satu definisi yang beliau ungkapkan adalah “Cinta adalah ketenangan tanpa kegelisahan ketika berada disisi orang yang dicintai. Dan kegelisahan tanpa ketenangan ketika jauh dari orang yang dicintai”.
Definisi cinta yang diberikan oleh Ibnu Qayyim al Jauziyah di atas sangat tepat jika kita eksitasi ke realita zaman dewasa ini. Dimana, banyak remaja (salah menyalurkan cinta) tampak gelisah ketika terionisasi (baca: berpisah) dengan belahan jiwanya. Makanya mereka membuat schedule yang terorganisir, waktu dan tempat di-setting sebaik mungkin sebagai orbital yang hanya dapat diisi oleh mereka berdua untuk bersenyawa guna memperoleh “ketenangan” dan melepaskan rasa gelisah selama mengion. Akan tetapi, sesungguhnya ketenangan yang diperoleh adalah ketenangan semu, ketenangan yang serba menipu.
Dahsyatnya Energi Cinta
Memang cinta membuat jiwa membara, wajah berseri dan mata berbinar. Cinta seperti itulah yang dialami oleh para wanita (bangsawati) terhadap Nabi Yusuf ‘alaihi salam, saat terpesona dengan ketampanan wajah Nabi Yusuf, tanpa sadar mereka memotong jari-jemari mereka sendiri. Cinta seperti itu pula yang dialami oleh seorang wanita yang langsung mengalami haid begitu melihat wajah tampan Mush’ab Bin Az Zubair. Cinta sejenis itu juga yang memenuhi ruang jiwa Khaulah Binti Hakim yang memasrahkan dirinya kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam hingga membuat A’isyah berkata, “Tidak malukah seorang wanita yang memasrahkan dirinya kepada seorang lelaki?”
Saksi cinta diatas memberikan pelajaran betapa dahsyatnya energi yang dikeluarkan oleh cinta. Saking dahsyatnya, jari pun terpotong, wanita mengalami haid seketika bahkan ummahaatul mukminin, A’isyah Radiyallahu ‘Anha pun cemburu akibat radiasi cinta. Karena itu, berhati-hatilah dengan cinta
Kesaksian Cinta
Mungkin kita pernah mengenal cinta bahkan menjadi pelaku cinta (sekaligus korban cinta). Namun sudahkah kita memahami hakikat cinta itu sendiri? Ataukah kita orang yang paling “bodoh” tentang cinta? Seandainya cinta mampu berbicara, niscaya ia akan berkata: Apa yang telah kalian lakukan padaku? Mengapa kalian berzina, bermaksiat, menyentuh wanita yang bukan mahram kalian kemudian mengatasnamakan AKU (cinta)? Mengapa kalian menghalalkan segala cara ini dan itu kemudian berkata semua ini karena AKU? Seburuk itukah AKU?
Cinta seolah menangis, ia terluka, ia merasa kesuciannya ternodai, ia merasa dirinya dipermainkan, disalahartikan, ia ingin lari. Namun, tak ada lagi orbital kosong baginya. Ia seolah terkepung oleh para pemabuk cinta, pecandu-pecandu minuman asmara pembawa kebinasaan.
Alirkan Cinta Pada ‘Kran’ Yang Tepat
Islam adalah agama yang sempurna. Seluruh sendi-sendi kehidupan tanpa kecuali telah diatur dengan baik dalam Islam, terlebih lagi dalam masalah cinta.
Cinta memang tak bisa dibendung, sebab ia adalah anugerah. Cinta memang tak bisa dihadang, sebab ia adalah karunia. Namun cinta harus dialirkan pada ‘kran’ yang tepat, yang selaras dengan aliran cinta Sang Maha Pemilik Cinta. Cinta harus digerakkan searah dengan gerakan cinta Sang Maha Pencinta. Sehingga gerakan cinta jiwa kita kepada jiwa kekasih akan senantiasa bersenyawa dengan gerakan cinta semesta. Cinta seperti itu yang akan kekal, yang tak akan terbatasi oleh sekat-sekat ruang dan waktu.
Saatnya Anda Bermetamorfosis! Tunggu apalagi! Lakukan sekarang!
Wallahu ta’ala a’lam
Sabtu | 22 Dzulqa’dah 1431 H/30 Oktober 2010 | Pukul 00.45 WITA